Jumat minggu lalu mulai biasa saja. Pukul 08.00 pagi, Paul, teman serumah saya menerima telepon dari salah seorang teman dekat kami. "Saisree diminta pergi ke klinik Universitas pagi ini," ia meneruskan berita dari telepon tadi. "Kemarin Saisree ke klinik karena sudah sebulan setengah ini batuk-batuk dan gampang capek. Sampel darahnya diambil kemarin dan hari ini diagnosisnya keluar. Dokter yang telepon Saisree pagi ini tadi bilang ada yang urgen untuk dibicarakan. Dia minta kita doakan." Kami pun menundukkan kepala sebentar, menghaturkan permintaan pada Yang Kuasa agar apapun 'yang urgen' yang mesti dibicarakan sang dokter ke Saisree bukanlah kabar buruk.
Pukul 08.30 saya tengah bersiap berangkat ke lab, Saisree menelepon lagi. "Buyung, bisa minta tolong diantar ke rumah sakit?", hmm.. pikir saya, serius juga kedengarannya. "OK, datang kemari ya." Saya bilang. Tak ada lima belas menit Saisree sudah sampai di rumah bersama Michael, seorang teman lain yang rupa-rupanya menemani Saisree ke klinik barusan. Michael menerobos masuk ke kamar saya, menangis tak berhenti. Lho lho.. lha kok pakai menangis segala? Mata Saisree pun merah, suaranya tertahan di kerongkongan. "Ada apa?" tanya saya, kali ini yakin kalau ada apa-apa. "Kanker." Michael cuma berhasil membuka mulut untuk seucap kata yang beratnya bak palu godam itu. Beberapa jenak saya cuma bisa bengong. Kanker? Di usia 25? Saisree baru tahun lalu memulai kuliah post grad nya di bawah bimbingan profesor saya. Ia masih muda, brillian, jenaka pula. Baru bulan lalu paper nya diterima dan dibacakan di konferensi Plant Growth Promoting Rhizobacteria internasional di India. Kanker?
Sisa Jumat lalu serba kabur di benak saya. Kami terburu menuju East Alabama Medical Center, beberapa ampul darah kembali diambil, dokter datang dan memberi kabar: potensi CML, Chronic Myelogenous Leukemia. Kanker darah putih kronis. Untuk diagnosis yang lebih pasti, test mutasi genetis mesti dilakukan pada genome dalam darah. Mesti menunggu seminggu lagi. Kami banyak diam hari itu. Meski saya coba juga mencairkan suasana, namun kelu dan kaku hati sendiri susah diajak bercanda. Perkara hidup-mati rupa-rupanya masih punya harga tersendiri: enggan ia berbagi tempat dengan sisi ringan hidup macam canda dan ketawa. Sabtu dan Minggu bergerak super cepat. Kami banyak berdoa dengan Saisree. Pertanyaan tak terelakkan pun terucap dari bibirnya: "Kenapa ya Allah?" Kenapa?
Saya bisa mengerti. Sayapun akan menanyakan hal yang sama. Manusia sudah menanyakan hal yang sama sejak lama. Sebagian umat kehilangan imannya karena pertanyaan macam ini seolah tak terjawab: membal di hadapan dinding bisu realitas. Dalam bahasa dillema David Hume: Allah yang maha baik tidak akan membiarkan manusia yang dikasihiNya menderita. Allah yang Maha Kuasa akan mampu mencegah penderitaan (seperti bencana alam, atau kanker) menimpa manusia yang dikasihiNya. Kalau pada kenyataannya kita melihat begitu banyaknya manusia yang menderita (oleh bencana alam, perang ataupun penyakit), apakah artinya Allah tak Maha Kuasa atau Allah tak Maha Baik?
Saya tak sedang ingin berpanjang argumen menyanggah Hume, meski saya pikir banyak yang bisa dikritik dari premis-premis dillema Hume di atas. Adalah satu hal untuk bicara filsafat di kelas, di forum terbuka di antara kontributor yang sama-sama hobi berpikir sambil serupat-seruput kopi hitam tanpa gula. Adalah hal lain untuk memikirkan dan merenungkan masalah ini di hadapan teman baik yang berlinang air mata dan dengan sungguh hati menanyakan pertanyaan yang sama pada Allah.
Saya tak punya kata-kata bestari buat Saisree. Tak ada insight istimewa yang mampu menerangi keadaanya saat ini. Dari tempat saya berdiri, tak ada jawaban, searif apapun, dari masalah Theodisi ala Hume di atas yang bisa bikin hati Saisree lebih sumringah. Ironis. Kita formulasi masalah praktis jadi problem filsafat, dan kita kutak-katik problem tadi dengan logika. Namun ketika problem filsafat tadi terterjemahkan kembali sebagai masalah praktis, logika tak memberi penghiburan.
Yang terbersit dalam benak saya justru ini: mari berdoa agar iman kita tak goyah di hadapan pertanyaan yang seolah menegasikan keberadaan Allah. hehe.. di titik ini saya bisa mengerti mengapa Marx melihat agama sebagai Opium des Volkes. Opiumnya masyarakat kebanyakan. Buat mereka yang melihat diri sebagai umat yang tercerahkan, pasti aneh permintaan saya barusan: mari kita berdoa untuk kuatnya pondasi doa kita kepada Oknum yang keberadaannya sedang dipertanyakan oleh situasi yang bikin kita berdoa...
Namun bukankah itulah iman? Bukti dari segala yang tidak kita lihat? Justru dalam kukuh dan yakinnya Saisree untuk tetap berdoa dan berserah bahkan ketika subyek di seberang sana sedang dipertanyakan kebaikan dan kemahakuasaannya, saya melihat iman. Dan dalam doa yang dipanjatkan dengan hati hancur dan air mata itu, saya melihat bukti kebaikan dan kemahakuasaan Allah.
Kalau boleh saya minta keleluasaan saudara untuk ikut mendoakan saudari saya Saisree: please pray that her faith will not fail. And for God's mercy upon her health.
Kanker, Allah dan Iman Tuesday, July 14, 2009
Posted by Boe at 5:25 AM 6 comments
Nasionalisme Friday, July 10, 2009
Pemilihan presiden di Indonesia barusan lalu, dan sepertinya pasangan alumnus IPB dan UPenn masih melaju paling kencang menuju titik selesai perhitungan suara. Mumpung momentumnya pas, saya jadi terhasut untuk berpikir tentang nasionalisme.
Saya punya love-hate relationship dengan nasionalisme. Mari mulai dari sisi 'love' sebelum kita beranjak ke sisi yang lebih sengak. Saya setuju dengan Karl Barth, theolog Swiss yang tertendang dari posisi mengajarnya di Jerman ketika Hitler memegang tampuk pemerintahan. Dalam essainya "The Christian Community and the Civil Community" Barth berargumen bahwa justru karena theologi Kristen melihat manusia sebagai makhluk yang terkorupsi oleh dosa, yang tanpa kekangan hukum eksternal akan secara natural melaju menuju kekacauan total (chaos), komunitas dan individu Kristen sudah sepantasnya melihat kebutuhan akan dan aktif mengupayakan keberadaan komunitas sipil dalam bentuk pemerintahan dan hukum bersama. Pertalian sejarah dan istiadat jamaknya menjadi dasar terbentuknya satu komunitas sipil. Dan sungguh saya cinta akan sejarah dan kekayaan istiadat yang jadi bagian dari kemanusiaan saya. Dalam pandangan saya, blangkon itu lebih nyeni dan lively dari topi cowboy, dan dalam beberapa kesempatan untuk berpakaian resmi saya lebih memilih memakai batik ragam Dayak daripada three-piece suit. Yang saya punya masalah adalah ketika nasionalisme sendiri mesti kemudian bergesek panas dengan nasionalisme bangsa lain, macam beberapa kali kita alami dengan Singapura, Malaysia dan Australia.
Mulainya sejak umur sepuluh tahunan dulu. Sebagian keluarga ibu saya tinggal dan berkewarganegaraan Belanda, dan kami rutin bertukar kabar dengan mereka via pos (waduh.. pos.. old school banget yak). Suatu kala, saya iseng meminta salah satu Oom di sana untuk bercerita tentang pahlawan-pahlawan mereka di Belanda. Namun bahkan ketika tengah menuliskan permintaan itu, masih ingat betul saya, terbersit rasa tak enak dalam hati. Teringat cerita di komik Teuku Umar yang berperang melawan serdadu Marsose. Teringat pula Pangeran Diponegoro yang bergerilya beradu otot dengan Belanda. Waduh.. jangan-jangan cerita tentang pahlawan Belanda ini nanti bakal berupa cerita tentang perang-perang yang sama diceritakan dari pihak seberang. Duh duh.. trus gimana dong? Kalau buat mereka Cornellis de Houtman atau Snouck Horgronje itu 'pahlawan', atas dasar apa saya mesti menolak itu label? Lha wong tuan-tuan Londo itu berjasa juga buat bangsa mereka je, sebagaimana Diponegoro dan Teuku Umar berjasa buat bangsa saya. Dilema berkecamuk di pedalaman anak 10 tahun yang kepanjangan berpikir. Sejak itu, dilema serupa tak pernah pergi meninggalkan saya.
Pagi-pagi saya sudah memutuskan untuk menganugerahkan gelar pahlawan bukan pada tokoh macam Panglima Sudirman, Tjut Nja' Dien atau bahkan Bung Karno. Jangan salah, saya hargai dan saya rasa berhutang pada mereka akan kemerdekaan praktis dan politis yang saya nikmati hari ini. Buat saya, mereka adalah prajurit dan pemikir-negarawan yang secara historis instrumental dalam memungkinkan saya hidup sedemikian rupa seperti saat ini, namun pahlawan mereka bukan. Sebagaimana eyangnya eyang saya sungguh instrumental dalam memungkinkan eksistensi saya namun, dengan penuh hormat, benak dan hidup saya tak terinspirasi oleh benak dan hidup beliau. Dalam dunia saya, orang-orang macam Romo Mangun, Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr. lah pahlawan-pahlawan. Mereka pahlawan dalam hati saya sebagaimana Soekarno pahlawan dalam hati banyak orang Indonesia. Buat saya, pidato nasionalis Bung Karno menarik menggelitik tapi nggak bikin saya tergerak. Tapi sungguh, pidato 'I have a dream...' nya Martin Luther King Jr. lebih menantang hidup sesehari dari orasi Bung Karno yang mana pun. Roro Mendutnya Romo Mangun lebih menyentuh menginspirasi dari cerita kepahlawanan Tjut Njak Dien.
Mungkin saya nya saja yang nggak tahu diri. Mungkin juga saya cuma produk dari putar roda historis: satu epos sejarah biasanya melahirkan antagonis-antagonis nya sendiri. Imperialisme melahirkan nasionalisme. Dan sangat mungkin nasionalisme melahirkan globalisme dan universalisme. Satu lagi kemungkinan: saya memang lebih cenderung pasifis, makanya simpati betul hati ini pada tokoh-tokoh pasifis radikal macam Gandhi, King dan Romo Mangun. Mungkin ide terakhir ini yang paling kuat bergaung di lorong idealisme saya: Gandhi, King dan Romo Mangun memperjuangkan nilai universal dengan cara yang benar. Kesetaraan dan hak tiap manusia untuk diperlakukan dengan adil adalah nilai universal. Dan cara yang mereka tempuh untuk melawan kekuatan besar opresif di muka pun, buat saya sungguh masuk akal: dengan nalar dan cinta, bukan bedil ataupun komentar sengit. Yang mereka tengah perjuangkan bukanlah kebenaran pribadi, namun kebenaran yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.
Yang seperti itu tak terkecap sama sekali oleh lidah saya ketika kita berpotong kepentingan dengan Malaysia atau Australia. Meski mungkin yang tengah kita perjuangkan adalah sesuatu yang universal: hak untuk dihormati sebagai manusia atau komunitas manusia, namun selalu terasa ada yang salah dengan cara kita memperjuangkannya. Tiap kali kita punya friksi dengan negeri-negeri jiran ini, saya sempatkan untuk jalan2 membaca komentar-komentar online di surat kabar, forum kaskus atau forum-forum lainnya. Dan selalu saja terasa oleh saya bahwa nasionalisme yang kita punya lebih mirip gengsi jawara daripada nasionalisme yang berakar pada nilai universal macam hak asasi ataupun harga diri manusia. Itu sebabnya cepat kali kita berkoar menantang, membalas hinaan dengan hinaan, cibiran dengan makian.
Kita tidak sendiri, tentu saja. Malaysia dan Amerika Serikat pun rasanya sama saja. Nasionalisme sempit yang berkar dan berbuah pada cara berpikir: kami lebih baik dari kalian, lumrah betul di muka bumi ini. Mungkin itu sebabnya saya bilang punya love-hate relationship dengan nasionalisme. Mungkin jauh dalam hati ini, saya ragu akan kemungkinan keberadaan nasionalisme yang bukan hanya santun namun betul-betul mampu menghargai bangsa tetangga sebagai entitas yang berdiri sama tinggi dengan bangsa sendiri.
Posted by Boe at 4:21 AM 1 comments
Bagai anggur yang makin kentara rasanya Thursday, June 18, 2009

Saya punya kecenderungan agak menyebalkan tentang menulis atau berpikir tentang sesuatu yang baru saja terjadi atau terbaca: saya ini sering-sering terlalu pelan kalau disuruh memamah apa-apa yang tengah terjadi dan menerjemahkannya dalam satu atau dua buah pikir dan membawanya ke permukaan dalam bentuk tulisan. Itu sebabnya tulisan-tulisan saya jarang betul yang up to date. Bahkan ketika diminta mengomentari kejadian aktual, super jarang saya bisa memahami apa yang benar tengah terjadi dan meletupkan komentar akan kejadian tadi. Semuanya serba mesti dikunyah pelan-pelan, dibolak-balik dalam benak, lahir satu tesis, diuji dengan semua informasi yang ada, terkadang timbul antitesis, kadang nggak juga. Pendek kata: cara saya berproses dan berpikir butuh waktu panjang.
Terkadang sedih juga punya prosesor lelet macam yang ada di kepala ini. Hilang sudah impian untuk bisa menulis kolom opini tentang topik aktual. Di waktu saya selesai menulis satu artikel tentang satu tema, orang lain sudah tertarik akan tema lain.
Yang bikin saya agak girang adalah ternyata saya nggak sendiri. Ini hari terbaca sekutip paragraf dari Soren Kierkegaard, pujangga-filsuf-teolog Denmark abad XIX, dari bab 'The Banquet' buku 'Stages on Life's Road': "... just as generous wine gains in flavor by passing the Equator, because of the evaporation of its watery particles. likewise does recollection gain by getting rid of the watery particles of memory..."
Ah ya, Soren bicara tentang rekoleksi bukannya berpikir secara umum. Tapi saya kira illustrasinya kena juga ke cara saya mengeja benak sendiri: makin lama satu problema terfermentasi makin jelas bening ia menjadi dalam gelas pikir saya, karena menguapnya issue-issue pinggiran yang meski di awal kelihatan sebagai bagian integral dari keseluruhan masalah namun sebenarnya tak lebih dari partikel pengencer tiada relevan. Bagai anggur yang makin kentara rasanya, Soren bilang.
Posted by Boe at 1:19 AM 1 comments
No vibration except of the sexual sort Tuesday, June 09, 2009
Linda Spalding menulis 'A Dark Place in the Jungle', bertera tahun 1998, di mana ia bercerita tentang perjalanan ke Borneo, menguntit Birute Galdikas, murid Louis Leahy yang lama meneliti orangutan di pedalaman Kalimantan. Belum selesai saya baca buku itu. Tak terlalu istimewa caranya bercerita, autobiografikal meski tak melulu tentang diri sendiri. Namun narasi yang banyak menyinggung Indonesia bikin saya betah memeloti halaman demi halaman.
Tak jauh dari permulaan buku, ketika Linda dan dua anak perempuannya yang sudah sama-sama dewasa menyeberang dari Bali ke Jawa dalam perjalanan ke Borneo, Linda menuliskan kesan menarik akan pria Jawa, "Java is different. Even in the middle of the night, it's crowded, male, and Muslim. As a woman, one feels no vibration except of the sexual sort, which is not sympathetic but prevalent. The funny thing about this vibration is that it's both curious and censorious. Hello, I love you, why are your arms so bare? It's not a food idea to be a woman, but to be a Western woman is worse. We offend with every breath and gesture."
Hehehe... sejak membaca paragraf di atas minggu lalu saya masih belum bisa menendangnya keluar dari pikiran ini. Masa iya sih? Segitunya ya kaum pria suku saya ini terlihat ndomblong malu-malu tapi kepingin demi melihat kulit putih halus mulus mbak-mbak dan ibu-ibu yang barusan menyeberang dari Bali itu. Saya mereka-reka seberapa besar praduga dan prasangka Linda van Toronto ini akan Islam (dan tradisi konvensionalnya yang besar kemungkinan terpotretkan serba kaprah dalam lingkaran-lingkaran tertentu di belahan bumi barat) terselip tanpa sadar dalam caranya merasa dan memaknai pandang mata dan 'vibrasi-vibrasi' lain yang tertangkap radar beliau.
Di satu sisi jeli juga Linda mencatat bahwa getar-getar perhatian yang terpanahkan ke arahnya 'both curious and censorious'. Pas! Buat saya memang sungguh 'Jawa'lah ekspresi 'curious and censorious' itu. Dalam bahasa Jawa seseharinya 'ngono yo ngono tapi yo ojo ngono'... Penasaran ya penasaran, tapi ya jangan keliatan-keliatan bangetlah kalau lagi penasaran. Di pihak lain, saya pikir ada yang berlebih dari cara Linda memaknai perhatian tadi, 'no vibration except the sexual sort?' Mosok sih pria Jawa separah itu dalam memandang wanita? Bahkan di trilogi 799 halamannya Romo Mangun: "Rara Mendut", "Genduk Duku" dan "Lusi Lindri" pun ada juga citra pria Jawa yang tahu adat dan aturan, tahu cinta yang tak semena nafsu.
Atau jangan-jangan, ada juga persentase benarnya vonis nylekit penulis Kanada ini? Mungkin fokus masalahnya adalah imaji wanita bule di mata pria Jawa (atau suku-suku lain, mungkin?). Teringat lagi obrolan-obrolan di gym di Semarang di mana saya (oleh himbauan tegas orang tua) sempat memeras keringat selama dua minggu. Hampir semua obrolan dengan tiap-tiap individu di sana akan akhirnya menyinggung juga iklim interaksi seksual di Amerika. "Apa bener to mas yang ada di film-film itu?" Well, tergantung film yang mana yang panjenengan tonton?, tanya saya ke hampir semua. Menakjubkan memang betapa efektifnya pencitraan media akan suatu obyek mempengaruhi pedalaman konsumen media bersangkutan. Menariknya, semenjak berdiam di Auburn, Alabama, saya jadi terekspos juga kok ke media yang memotret Amerika apa adanya: yang nggak kelewat sensual dan nggak selalu kebak kekerasan. Tapi kenapa ya, media yang mampir di tanah air kok ya kebanyakan justru yang serba sexy dan berdarah-darah? Jangan-jangan distribusi sungsang macam ini justru terang memperlihatkan potret selera kita sebagai konsumen ketimbang Amerika sebagai obyek konsumsi? Lha kalau gitu, berarti ada benarnya juga dong komentar menyedihkan Linda Spalding tentang pria Jawa (dalam kategori mana saya menghitung diri): "As a woman, one feels no vibration except of the sexual sort..."
Duh!
PS: gimana ya pendapat perempuan jawa dan non-jawa?
Posted by Boe at 9:30 PM 1 comments
Rumah Sunday, June 07, 2009
Auburn, June 2nd 2009
Pagi musim panas Alabama menyapa riuh. Sebagian jetlag yang sempat mengganggu tidur sebentar malam tadi hilang tercuci riang nyanyi burung dan tajam bilah sinar matahari yang menerobos lewat kisi jendela. Pagi yang membingungkan: hati yang serba tegesa oleh rasa bersalah lantaran tak satupun kerja selesai selama tiga minggu melantur pulang ke Indonesia. Setiba di kantor, spesimen serangga dan jurnal menumpuk di meja. Cangkir-cangkir kopi berdiri di sebelah mesin jerang. Statis. Tak ada yang berubah sejak ditinggal terbang separuh bola bumi tiga minggu lalu.
Empat jam berlalu lekas: email-email penting dan tak terlalu penting, prioritas dan deadline yang kacau sudah dan mesti dibenahi lagi, janji ini dan itu. Pukul dua belas datang menjemput. Tergesa sedikit berjalan ke arah cafe langganan di depan Samford Hall. Tom sudah menunggu di sana. Tersenyum lebar mantan pilot angkatan udara yang sudah jadi teman lama di Auburn ini. Makan siang ringan pun dipesan, secangkir Americano ukuran besar dan tuna sandwich. Ah, beda betul dengan menu makan siang ala Semarangan: Bakso Non di sudut pasar burung nan meluap limpah dengan usus sapi dan ubo rampe jerohan lain, atau badak sambel di kantin SMA 3 yang sekarang di tempat tinggalkan di gedung belakang, bekas gedung kelas I dulu itu.
"Jadi, banyak sudah yang berubah di kota mu itu?" tanya Tom, dan saya pun terhenyak sejenak.
Banyak memang yang sudah berubah dengan Semarang. Rumah keluarga yang dulu rasanya berada di pinggir sekali, dekat betul dengan perbatasan Demak itu, sekarang kok berasa dihembalang ke wilayah yang meski bukan tengah kota tapi nggak juga sub-urban. Cepat rasanya pemekaran kota Semarang, meski kata mereka yang tinggal di sana masih juga terasa kurang cepat. Juga satu lagi: dulu jaman SMA, tiap pagi saya mesti bertarung berkompetisi ruang versus sepeda-sepeda yang entah berasal dari mana saja dan menuju ke mana saja. Tapi pagi-pagi tiga minggu kemarin, tiap kali mengantar ibu ke tempat kerja bukan lagi sepeda yang jadi kompetitor ruang transportasi, tempatnya tergantikan sudah 0leh sepeda motor. Ooalah.. saya jadi teringat sepenggal tulisan entah Sindhunata entah Mangunwijaya yang sempat terbaca semasa kuliah dulu: seorang mbok desa dengan lugu mendefinisikan kemerdekaan sebagai "masa ketika semua orang bisa punya sepeda." Ha! Bukan cuma sepeda! Kini sepertinya semua bisa punya sepeda motor. Ah ah.. nakal benak saya menggoda definisi lugu-bijak si mbok yang tentu saja memakai sepeda sekedar sebagai contoh barang mewah.
Ya, banyak yang berubah sudah dengan Semarang. Tapi yang lebih menonjol dalam benak saya adalah, betapa berubah sudah diri saya sendiri. Ya, tiap manusia mau tak mau ikut berputar bersama cakra waktu dan berkesempatan belajar dari lalu waktu dan peristiwa. Maka tak heran bahwa saya berubah setelah tiga tahun setengah. Tapi yang bikin ngungun adalah ke arah mana saya berubah dan bagaimana perubahan tersebut mengubah cara saya memandang Indonesia dan Semarang.
Kalervo Oberg, ekonom Kanada yang keblangar jadi anthropolog, bikin istilah 'culture shock', 'gegar budaya', untuk membahasakan kekagetan dan kekikukan seseorang dari satu budaya yang baru bersua atau hijrah ke tempat dengan budaya berbeda. Anthropolog-anthropolog lain yang meneruskan kerja Oberg mengidentifikasi juga fenomena lain: 'reverse culture shock', 'gegar budaya terbalik (??)', untuk menyebut kekagetan dan kekikukan mereka yang pulang kampung setelah berdomisili lama di ruang kultur yang berbeda.
Pulang ke Semarang minggu lalu serasa membukakan mata saya akan kenyataan gegar budaya terbalik tadi. Meski banyak juga yang berubah dengan Semarang, agaknya banyak pula yang sudah berubah dari cara saya berpikir, merasa, dan berharap. Dari soal remeh saja: terbiasa nyetir di jalan lengang di desa-desa Alabama yang pengemudinya relatif santai dan tertib, saya gelagapan kalau disuruh mengendalikan kendaraan bermotor di jalan-jalan ramai Semarang. Buat saya, garis putus-putus pembatas di tengah jalan searah itu ada guna dan artinya: maksimal ada dua jalur mobil yang bisa diakomodasi jalan yang dibelah tengah tadi, satu di kiri dan satu di kanan. Makanya melihat empat mobil bersikukuh berdiri sebaris di satu ruas yang mestinya cuma buat dua, saya kok jadi bingung sendiri.
Satu gegar budaya yang paling menarik terjadi di Lawang Sewu, gedung tua bikinan tahun 1904 yang berdiri magrong-magrong di tengah kota Semarang. Gedung ini didirikan oleh dinas kereta api pemerintahan Hindia Belanda, dan kabarnya bakal dipugar dan ditempati oleh PJKA. Di kala tengah asyik memotret kaca patri yang konon didatangkan dari negeri Belanda (dan yang menariknya selamat dari mortir juga peluru nyasar jaman revolusi fisik), si mas pemandu penarasi berbagai detil menarik gedung ini dengan serius bilang "Kalau mau datang kemari malam-malam mas, nanti kita jalan muter gedung ini cuma pake lilin." Sejenak dua jenak benak saya pun melompong di hadapan tawaran si mas, "Lha kemari malam-malam nggak ada yang bisa dilihat to mas?", tanya saya bodoh. Si mas tersenyum, "Lha justru malam-malam itu yang isinya penampakan-penampakan!" ujarnya. Wooo... gedung yang menurut saya sungguh megah menarik karena bobot sejarah dan estetikanya ini ternyata punya penampang lain yang nggak kalah (kalau bukan lebih) menarik buat si mas: penampang mistis! Sejenak sebentuk pikiran iseng terbentuk dalam benak saya: kolega sebangsa saya ini menarik: setan ditakuti digegirisi, tapi senang juga ditengok-tengok, dicari-cari, dijadikan hiburan. Atau jangan-jangan, justru karena menakutkan serba membangkitkan adrenalin itulah setan dan segala yang mistis tadi jadi menghibur? Mirip-miriplah dengan roller coaster buat manusia barat. Justru karena menimbulkan rasa takut dan deg-deganlah roller coaster jadi digemari. Makin ekstrim dan bikin giris gemas, makin kecanduan orang dibuatnya. Entahlah...
Ternyata memang, macam spons lah relung-relung benak dan inti diri seorang manusia. Nilai, rasa, norma dan pemikiran yang pada mulanya asing ternyata kelamaan mudah juga jadi bagian diri sendiri. Yang menarik dari pejalan antar budaya seperti saya dan jutaan manusia lain adalah kesadaran bahwa kelamaan makin mirip siputlah kami ini: rumah kami bawa di punggung sendiri. Ya, ketika kami masih bisa pulang ke suatu lokasi geografis namun tak lagi berbagi sepenuh asumsi akan hidup dan kehidupan dengan sebagian masyarakatnya, masih pantaskah lokasi tadi di sebut rumah? Selama masih ada yang akrab, mungkin masih tersebut rumahlah lokasi tadi. Tapi toh, yang akrab pun tak abadi. Dan nanti, ketika semua atau nyaris semua yang akrab tak ada lagi, apa dasar menyebutnya sebuah rumah?
Saya pikir, mungkin dalam skala nya sendiri-sendiri, semua kita berulang-alik antar satu budaya ke budaya lain. Mereka yang tinggal di jakarta namun berasal dari ruang budaya lain pun saya kira bisa mengaminkan pernyataan tadi. Dan tidakkah kita pada akhirnya adalah siput-siput yang terus membangun rumah di punggung sendiri. Rumah yang batanya adalah asumsi akan makna, asumsi akan manusia dan komunitas, yang kita bolak-balik pinjam-kembalikan dari perpustakaan besar bernama budaya manusia?
Posted by Boe at 2:01 AM 3 comments
On my 28th Tuesday, October 14, 2008
On my 28th,
I called home and spoke to my dad
"I was married when I was 28",
it was an important year for him, I can hear it in his voice
"Yes, dad. And I'm about to get my PhD,"
"Yeah.. what a difference between our generations, eh?"
I nodded, aware that he couldn't see my nod
for I silently think, "maybe not"
Maybe, just maybe, we are pursuing the same thing
A vision, a fulfillment, a meaning
Him in his 28th and me in mine
On my 28th,
We sat on our breakfast table,
I, Paul and Nirmal
reading Oswald Chambers' My Utmost for His Highest
"Moses saw the oppression of his people
and felt certain that he was the one to deliver them,
and in the righteous indignation of his own spirit
he started to right their wrongs."
To right the wrongs
Wrongs, the world of wrongs, all the wrongs that we daily see,
read,
feel,
smell.
A vision.
"The whole creation has been groaning together in the pains of childbirth until now ... (for) the redemption ..."
"... God has committed to us the message of reconciliation.
We are therefore Christ's ambassadors,
as though God were making his appeal through us. "
The time has come, to right all wrongs,
my time has come.
me, an earthen vessel
that too often, like Moses and even more,
thought itself more like a granite jar
made tough, made to be tough and made to toughen
Without vision, people perished
Without the gentle stride of God, a visionary burned
to a despot turned
On my 28th,
I walked to the library
and hummed without thinking
"I'm giving You my heart and all that is within
I lay it all down for the sake of You my King
I'm giving you my dreams, I'm laying down my rights
I'm giving up my pride for the promise of new life"
upon the very word, 'life'
some body somewhere whispered to my ears,
the words stubborn and sticky,
like wet clothes clinging to the body,
"Be faithful unto death, and I will give you the crown of life."
Posted by Boe at 1:27 AM 4 comments
Life is supposed to be lived, not reported Monday, April 14, 2008
Momen menyenangkan dari baca buku, buat saya, adalah ketika tertemu butir pikir sendiri terungkap lewat tulisan, bahasa dan langgam orang lain.
Siang tadi mata saya tertabrak satu kalimat di fiksi theologi super ngocol "Saving Erasmus" besutan Steven Cleaver, "Life is supposed to be lived, not reported."
Eureka!
Saya setuju.
Sudah berbulan-bulan belakangan ini saya berpikir dan berproses dengan asumsi serupa, namun tak pernah terformulasikan sejelas kutipan Cleaver tadi. Dan karena asumsi di atas tadi, blog ini jadi super jarang diupdate.
It's official then. Life is supposed to be lived, not reported. Setidaknya untuk sekarang dan beberapa waktu ke depan, entah sampai kapan.
Posted by Boe at 5:13 AM 1 comments
Adakah Engkau di lab kami ya Allah? Tuesday, March 25, 2008
Apakah bekerja Kau lihat sebagai doa, ya Allah?
Adakah Engkau di sudut-sudut laboratorium tempat virus-virus diidentifikasi dan diteliti?
Ulangan-ulangan metode dan lembar-lembar laporan ini ya Allah, berartikah bagiMu?
Jika Engkau ada di dalam semua itu ya Allah,
mengapa aku tak merasakanMu di sana?
Posted by Boe at 4:47 PM 0 comments
Berkat bernama buku Tuesday, January 08, 2008
Dalam 'The Namesake', novel apik perdana Jhumpa Lahiri yang barusan diadaptasi ke layar lebar oleh Mira Nair, kakek Gogol Gangguli, sang protagonis, sempat bertutur "That is what books are for. To travel the world without moving an inch."
Ironis mungkin, sebab ayah Gogol, kepada siapa petuah tadi dialamatkan pada akhirnya tetap memutuskan untuk hijrah. Melihat dan mengalami sudut lain dari dunia dengan mata kepala sendiri dan bukannya lewat jejak pena seorang lain.
Namun buku tak hanya mengabarkan pada kita fakta akan sisi lain dunia. Buku mengundang kita untuk menikmati benak dan emosi manusia. Buku mengajak kita untuk jadi kontemplatif, berdiam sebentar mengamati drama dalam hidup manusia lain, entah fakta atau fiksi, dan melaluinya bercermin mematut hidup sendiri.
Buku pula yang bercerita pada kita akan peri hidup yang sama sekali lain. Misterius namun memikat. Ritual reproduksi lebah madu dan hibernasi beruang. Strategi berburu kumbang api dan suar morse kunang-kunang.
Buku membawa rumor akan dunia dan kenyataan lain, dunia dan kenyataan yang transenden, yang tak kasad mata. Lewat buku, Allah memilih untuk menyatakan diri pada manusia.
Minggu pertama tahun ini saya habiskan membaca buku bagus tulisan Brennan Manning. "The Signature of Jesus". Manning, veteran perang Korea dan mantan biarawan Fransiskan, menulis dengan diksi segar. Sudut ambil nya akan hidup spiritualitas seorang Kristen sungguh berbeda dari penulis-penulis lain, membuat konsentrasi dan motivasi saya tak surut di sepanjang buku ini. Dan seperti buku bagus lainnya, buku ini tak berhenti sebagai peta harta karun, ia juga memberi diri terambil sebagai bagian dari pondasi keyakinan dan inspirasi saya. Seperti paragraf berikut:
"The kingdom, Jesus tells us, is in our very midst, in the mistery of our relationships with each other. We are within its gates when we draw close to one another with the love that is fired by the Spirit. We are already on sacred ground when we reach out to understand rather than condemn, when we forgive rather than seek revenge, when as unarmed pilgrims we are ready to meet our enemies. What Jesus teaches is too simple and too wonderful for those who want magic in their religion."
dan:
"According to the evangelical criterion for holiness, the person closest to the heart of Jesus Christ is not the one who prays the most, studies the Scripture the most, or the one who has the most important position of spiritual responsibility entrusted to his or her care. It is the one who loves the most..."
Sedap sungguh, bikin semangat untuk baca buku-buku bagus lain sepanjang tahun 2008 ini. Di antara buku-buku di book list saya untuk tahun ini, ada 'Come be my light' nya Mother Teresa, 'Ragamuffin Gospel' besutan Manning, 'The Cost of Discipleship' tulisan Bonhoeffer, 'Commodore Pery's Minstrel Show', oleh Richard Willey, 'For the Love of Insect' nya Thomas Eisner dan 'The Hiding Place', memoir menarik Corrie Ten Boom.
Book list sampeyan gimana?
Posted by Boe at 11:42 PM 5 comments
'Allah' Tuesday, December 25, 2007
Malam natal itu sesuatu nan ajaib terjadi. Ketika malam menelungkupkan jubahnya di atas bumi, gemintang berbaris rapi, membentuk selarik kata di atas kanvas legam: “Allah”. Komet dengan ekornya meledak terang menarik garis lurus di huruf ‘A’. Tak satu bintang pun absen, semua di sana. ‘Allah’.
Hanya selarik kata. Kata yang di banyak lingkaran sudah nyaris vulgar, tak pantas diutarakan di muka publik, ofensif. Kata yang bila diucap dengan keyakinan berlebih lalu sama dengan arogansi, ignoransi dan chauvinisme. Kata yang demi toleransi hidup bersama, lebih baik tak terucapkan sering-sering. ‘Allah’, menyemburat di langit gelap.
Umat manusia ternganga. Ilmuwan dari penjuru bumi memeriksa perhitungan mereka. Model A, B dan C dikonstruksi, menghitung seberapa besar kemungkinan fenomena ini tak lebih dari probabilitas stokastik belaka. Astrolog anu dan itu diwawancara, CNN, BBC, MSNBC tergesa memproduksi talkshow, dokumentasi, diskusi. Gempita, kaget, ‘Allah’???
Di gereja, masjid dan vihara, mereka yang telah lama berpegang hanya pada seutas iman nan retas demi mempercaya IA yang tak kasad mata bersyukur, berdoa, bertanya. ‘Allah’?
Youtube disesaki video langit dengan gemintang besar mengutara asma Yang Maha, dari kutub utara, Korea, Australia, Palestina. Lalu datang pula upload gelombang video berikut: pengakuan dosa, komunitas menangis menyesal, pertobatan besar-besaran, dari St. Pauli di Hamburg, dari Las Vegas di Nevada, dari sudut-sudut bumi.
Alkitab, Alquran, Vedha dibagikan di pojokan jalan. Tak ada yang berteriak menyangkal. Tak ada yang berani melarang. Kalap. Dalam terkejutnya, manusia mencari selamat dari ‘Allah’.
Malam demi malam, tulisan yang sama menggantung di sana. Sisi-sisi langit malam sepi, absen dari gemintang yang berkumpul sama di tengah kanvas, membentuk satu kata ‘Allah’.
Sampai satu malam, seorang anak menatap ke satu kata yang menggantung di langit malam. Inosen dan jernih dalam berpikir. ‘Allah’ tercermin di bola matanya. Dan ia pun bertanya ‘So what?’, ‘Terus kenapa?’
Terus kenapa kalau Allah ada?
Terus kenapa kalau Allah hidup?
Terus kenapa kalau Allah lah yang mencipta dunia, manusia dan semua yang ada?
Terus kenapa?
--
Pada akhirnya, pertanyaan Yesus kepada salah seorang muridnya menggema melewati abad-abad sampai ke telinga kita “Menurutmu, siapakah aku ini?”
Dan menyambut jawab kita akan pertanyaan Yesus, terngiang pula pertanyaan sang anak “And so what?”
Selamat Natal buat semua, semoga Natal ini menemukan kita berpikir akan Allah dan hidup kita masing-masing. Adakah kita menghidupi hari-hari seolah Allah ada?
Terlebih lagi, adakah kita menghidupi hari ini seolah Allah telah hadir ke dunia dua ribu tahun lalu dan menyelamatkan kita dari diri kita sendiri?
:inspirasi dari ‘Secrets in the Dark: A life in sermon’ oleh Frederick Buechner:
Posted by Boe at 7:21 PM 1 comments
